Bila Aktivis Dakwah Kampus Hangout

Semoga bisa membuat kita tersinggung dan bisa mengarahkan kita jadi lebih baik untuk jalan ke yang benar :

 

BILA AKTIVIS DAKWAH KAMPUS HANGOUT
By : Mochamad Redza Kusuma

Di era socmed seperti sekarang ini, Saya sering jumpai pola-pola baru interaksi para aktivis dakwah kampus dalam bergaul. “Baru” dalam arti tidak (atau langka) dijumpai pada masa-masa saya dahulu berkecimpung di dunia dakwah kampus. (jadi berasa tuwiirrr, hahaha…)

Salah satu hal -di antara banyak hal lainnya- yang cukup menonjol adalah tren jalan-jalan bareng ke tempat wisata, night park, atau nonton bareng di bioskop; umumnya Aktivis Dakwah Kampus terjangkau dengan fasilitas hiburan daerah perkotaannya.

Umumnya para ADK ini memiliki pengajian atau majelis pembinaan keIslaman rutin; dan karenanya, hangout yang mereka lakukan tidak menabrak waktu-waktu sholat mereka. Film yang ditonton (seandainya mereka ke bioskop) juga dipilih genre yang judulnya berbau religi.

Pun, saat mereka bergerombol, ada jarak yang memisahkan antara ikhwan dan akhwat. Hangout Syar’i, barangkali ini istilah keren yang mereka cetuskan. Jalan-jalan ala anak muda, namun tetap memperhatikan ibadah dan akhlak Islam.

Barangkali juga saat jalan-jalan tiada hentinya mereka membaca istighfar, wirid Al-Ma’tsurot/pagi & petang, atau muroja’ah hafalan Quran kali yaa…hehehe.

Umumnya, hangout ini diikuti oleh mereka yang aktif pada satu departemen, divisi, bidang, biro, atau kelompok kerja yang sama di organisasi dakwah dimana mereka aktif. Bisa hanya ikhwan saja, bisa pula akhwat saja, dan tak jarang (iya, beneran lohh…) ikhwan dan akhwat jalan bareng. Meski rame-rame. No khalwat, please…

Menurut survei kecil-kecilan Saya (biar bisa dibilang ilmiah dikit gituu…^^), motif utama hangout seperti ini adalah dalam rangka mengokohkan semangat ber-ukhuwwah Islamiyyah di antara mereka. Mereka sadar ada persoalan kerekatan Ukhuwwah yang bisa bertransformasi menjadi keretakan, bila tidak segera diantisipasi. Salah satunya adalah, ya dengan melakukan hangout “Islami”.

Beberapa motif lain yang Saya jumpai adalah :
– Sarana hiburan sehabis UTS, UAS
– Recovery semangat pasca- event kepanitiaan besar yang menguras tenaga, pikiran, dan biaya
– Momen untuk menggali dan mengenal lebih dekat antar sesama pengurus organisasi
– Mengisi kekosongan program/kegiatan formal
– Konsolidasi sebelum launching program baru di organisasi

*

Ini yang paling unik.

Faktanya, dalam kegiatan Hangout tersebut (dimana selalu menyertakan aktivitas makan-makan di restoran atau tempat kongkow), jumlah personel yang hadir selalu lebih lengkap dan banyak dibanding saat mereka hadir di kegiatan rapat-rapat organisasi konvensional.

Personel yang selama ini menjadi pseudo-ADK (namanya doang tertera dalam daftar pengurus organisasi, namun tidak/jarang di dunia nyata), mendadak komplit bin ontime, di acara hangout dan kongkow tersebut. Keren ya? This is the power of mlaku-mlaku, qiqiqiqi….. 😀

Pendekatan konsolidasi organisasi ternyata lebih menarik bila dikemas melalui acara fun, santai, dan nyaris tidak bernuansa serius. Hal ini terlihat dari senyum yang merekah selebar-lebarnya pada foto-foto hangout yang para ADK itu unggah di socmed.

Apalagi jika uploaded photos itu di-Like dan dikomentari banyak ADK yang lain dengan histeria macam: “Aaaaa,… aq pengen ikut ukhti!”, atau “Subhanallah, bro, ukhuwwah yang indah!”, atau “Syukron udah di-tag,” atau “Jazakallah, smg ukhuwwah ini sampai jannah-Nya”
Comments yang Islami. Istilah yang mbois, hehehe.

Komen-komen positif dari netizen yang juga sesama ADK tak jarang “menginspirasi” yang lain untuk berbuat yang sama. Tak jarang, di kemudian hari Saya jumpai juga ‘perlombaan’ hangout antar Departemen, atau unit kerja lain di organisasi itu. Mereka janjian ketemuan hangout di suatu tempat, jalan-jalan as usually, foto selfie dan groupie, kemudian mengunggahnya di socmed, diberi caption berupa doa-doa biar ukhuwwah ini langgeng, atau ada keberkahan dari hangout ini, atau bla bla bla yang lain, lalu….. tadaaaaa…! Banjir jempol, share, dan komens.

Yaa, alhamdulillah yaa (gaya Syahrini) timeline Saya akhirnya lumayan dibanjiri oleh ‘pemandangan’ yang menyejukkan. Paling enggak, alternatif positif ketimbang postingan hoax, penuh cacian, kriminalitas, vandalisme verbal, atau status-status yang nyaris ga bermanfaat dari sebagian friends yang Saya kenal.

Menyejukkan? Iya. Gimana enggak menyejukkan. Wajah-wajah ganteng, keren, dan macho para ikhwan sekarang mudah banget diakses oleh siapa saja. Janggut mereka yang berkilau, kulit mereka yang kinyis-kinyis, dan potongan rambut ikhwan yang kekinian, banjir di timeline Saya, dan di jutaan pengguna socmed.

Yang akhwat juga demikian. Duuuh, cantik-cantik ya akhwat jaman sekarang. Khimarnya puanjang-panjang, berwarna-warni, melambai terkena ikhwan. Gamisnya cerah, modis, kayak di toko fashion hijab syar’ie yang lagi menjamur itu.

Woww, tatapan mata akhwat begitu mempesona. Kulitnya putih mulus dengan efek Instagram dan aplikasi editing yang sempurna. Senyumnya kayak bidadari Surga. Yang ikhwan kayak mujahid melihat pintu Surga juga. Tak jarang mereka berkata kepada sesama, “Ciee…cieee, anak sholih/sholihat idaman calon mertua nih yaaaa…”

ADK, jangan diplesetkan menjadi “Aktivis Dunia Kumpul”. Bulan ini hangout departemen, pekan ini hangout grup pembinaan, bulan depan hangout all-ikhwan, lalu hangout muslimah only, lalu jalan-jalan sesama Angkatan, dst…dst…

Giliran tiba event Ramadhan, kelabakan. Giliran acara kajian, nggak dateng. Giliran ngisi mentoring pembinaan keIslaman, ngurus kuliah. Giliran menuntaskan program kerja, pura-pura ga bisa ditelpin. Giliran diundang rapat, ketiduran.

“Afwan aja ijin ada agenda keluarga”, “Afwan ana bantu-bantu di rumah”, “Afwan ana gak bisa kalo mepet waktunya”, “Afwan cucian numpuk”, “Afwan garap tugas, besok dikumpul”, dan manajemen afwan lainnya. Lah, waktu longgar kemarin-kemarin pada dimana semua…? Sampai-sampai kewajiban di rumah terabaikan.

*

Mungkin zaman udah pada berubah ya. Makin kesini, mantan ADK makin menua, seperti Saya ^0^

Saya, mantan ADK yang kini punya anak dua dan berperan sebagai murobbi (pembina) pengajian sebagian mereka, sering merenung tatkala melihat fenomena ADK zaman sekarang di era kebebasan socmed.

Benarkah persoalan ukhuwwah dalam dakwah merupakan masalah intensifnya pertemuan sesama aktivis dakwah? Katanya, masalah ukhuwwah muncul karena mereka jarang ketemu, macet komunikasi, dan terlalu bekerja di bawah tekanan, benarkah demikian?

Bukankah persoalan ukhuwwah itu sesungguhnya persoalan iman, persoalan kesehatan ruhiyah? Manakala kualitas ruhiyah-ubudiyah seorang ADK itu tinggi, dengan pemahaman keIslaman dan dakwah yang benar mereka punyai, masalah ukhuwwah hanyalah bagian dari dinamika perjalanan, bukankah demikian?

Ujian ukhuwwah ADK, sejauh yang saya jumpai belasan tahun berkecimpung di dunia dakwah kampus dan kepemudaan, terbesar ada di willayah salah ucap, adu argumen, keliru memahami hasil syuro (rapat), gak sengaja membully, atau khilaf dalam pengambilan keputusan.

Itu semua seharusnya selesai pada tataran saling memaafkan, nasihat-menasihati, atau menguatkan hubungan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tidakkah demikian?

Saya sadar, ada banyak fenomena anak-anak muda zaman kini yang juga menjadi sebagian watak dan karakter ADK-ADK sekarang. Keinginannya untuk eksis dan diakui. Watak lumrah usia remaja & pemuda, yang di era socmed ini menjadi semacam “perang eksistensi”. Berlomba-lomba untuk menonjolkan dan menampilkan citra diri sebaik-baiknya, semanis-manisnya, dan sesempurna-sempurnanya.

Saya akui, betul bahwa manusia suka hiburan. Bahkan membutuhkannya. Kepenatan agenda kerja dan dakwah, membuat ADK merasa harus mengambil tindakan untuk mengendurkan urat ketegangan mereka.

Disinilah masalahnya. Ketika “hangout Islami” seperti yang Saya sebut di atas seolah menjadi kebutuhan mendesak, darurat, dan rutin dilaksanakan guna melepaskan stress dan lelah akibat tekanan organisasi dakwah, lantas dimana letak taqarrub ilallah? Dimana letak sholat dan sabar? Dimana letak husnuzhan dan taubat?

Dimanakah letak pemahaman atas tabiat jalan dakwah? Dimanakah letak keistimewaan dan kesentralan majelis tarbiyah mereka dalam memperbaiki diri dan memberikan bimbingan atas dakwah?

Kita butuh kontemplasi diri. Lebih dari kebutuhan kita untuk mengaktualisasikan diri lewat “War of Existence” di hadapan manusia. Kontemplasi diri, atau muhasabah, mutlak dibutuhkan untuk membangun semangat dan orientasi ukhrawiyyah yang benar, dalam meniti jalan dakwah. Sudahkah ini kita lakukan, sebelum melibatkan diri dalam agenda-agenda hangout bersama sesama ADK?

Kita patut merenung dan menyisakan ruang untuk mengevaluasi, sudahkah hangout Islami yang kita lakukan itu berdampak perbaikan bagi amanah dakwah yang kita pikul di organisasi dakwah tersebut?

Adakah mereka, para anggota, yang selalu hadir di agenda-agenda hangout, juga disiplin hadir di agenda rapat dan dakwah? Adakah mereka, yang nampak ramah, ceria, dan bersahabat saat selfie & groupie itu, benar-benar memuliakan saudaranya di dunia nyata?

Adakah pekerjaan-pekerjaan dakwah itu selesai terdistribusikan secara adil dan merata ke semua anggota, jika memang tujuan hangout itu adalah “konsolidasi”?

Adakah acara hangout tersebut, justru menjadi ‘pelampiasan’ rasa rindu para ADK yang terjangkit penyakit hati kepada lawan jenis, dan menjadi ‘obat’ untuk bertatap muka, bertatap senyum, dan bertukar cerita? Sesuatu yang -MasyaAllah- sangat kami hindari semampunya di zaman kami aktif sebagai ADK dahulu.

Adakah acara hangout tersebut, malah menyisakan kesempatan bagi para ikhwan dan akhwat itu untuk intens berkomunikasi lewat chatting pribadi, setelah jalan bareng dan kongkow bersama?

Adakah hangout tersebut pada akhirnya mampu memberikan pelurusan niat atau reorientasi tujuan kepada anggota-anggota organisasi, atas cita-cita dakwah yang mereka emban? Atau justru kemudian mereka kembali “berulah” dengan kabur dan menghilang saat dibutuhkan, dan datang kembali saat acara hangout diadakan?

Saya sudah kenyang kepada fenomena ini sejak dahulu, meski dalam wujud dan kemasan berbeda. Tentang fenomena “Penumpang gelap dalam kafilah dakwah”. Mereka yang mengeruk keuntungan duniawi, atas perjuangan meniti jalan Nabi ini.

Sadarilah.

Mencari hiburan itu lumrah. Bercanda itu manusiawi. Lakukanlah dalam batas sewajarnya. Jangan sampai keberbutuhan untuk menghibur diri menjadikan kita terlupa atas prioritas dakwah, apalagi keliru dalam menterapi persoalan ukhuwwah.

Niat sudah semestinya dimanifestasikan pada kebenaran amal. Niatnya baik, namun cara merealisasikan niat itu akhirnya membawa kemungkaran baru, tentu akal sehat kita haruslah menimbang: sudah benarkah cara ini digunakan?

Syaithan akan berupaya membelokkan niat kita, sepanjang hari, sepanjang tahun. Niat awalnya ukhuwwah, berlanjut mimpi indah, upgrade ke mutaba’ah yaumiyyah, lalu meningkat ke chatting papah-mamah, akhirnya menjurus ke “kapan nikah”, walhasil, alasannya “demi dakwah”. Jablayy ahhhh…
.
.
.
Kita patut waspada, kepada langkah syaithan dalam membuat indah suatu kemaksiatan. Jangan-jangan, kita sudah terperangkap pada jebakan yang mereka buat, sehingga kita masa bodoh kepada potensi dosa atas perbuatan-perbuatan mubah yang overdosis dilakukan…

semoga bermanfaat

salam pemuda

#TafakurSore
#AktivisDakwahKampus

syaid adianto

syaid adianto

Seorang Pemuda yang memiliki hobi membaca, berenang, jogging, berolahraga, futsal, dan treveling. 
syaid adianto

Latest posts by syaid adianto (see all)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *